Indah nian hari ini…  Sepeda yang biasa ku pake “mendadak dangdut”..eh, mendadak ngambek… :(

Entah kenapa rantai sepeda (yang sudah karatan plus berlumur oli) tiba-tiba keluar orbit alias lepas.  Padahal diriku masih harus praktikum sore di kampus berbeda yang lokasinya aduhaaaaiiii, jauhnya…

Setengah panik, tuh sepeda coba q beresin… Bukannya berhasil, malah tanganku belepotan oli (huaaaa…).  Teman-teman yang lewat cuma pada cengengesan en basa-basi (nih temen apa temen..??). OK, mendingan sekarang siapkan rencana gimana caranya “membujuk” sang rantai sepeda supaya kembali ke rotasinya.

                                                             ** 

Dengan setengah hati dan setengah memaki, sepeda q tuntun.  Arahnya bukan ke kampus tapi ke housing.  Bolos kuliah?  Nei!! Ini rencana A.  Tujuan ke housing hanya untuk parkir tuh sepeda (pulang praktikum baru dibetulin) plus ngambil strippen kaart (karcis bis)…  Untung tak dapat diraih, malang maunya ku tolak, karcis bisq sudah habis dipakai untuk jalan-jalan minggu lalu (cape deh..).  Duit?  Cash ngga cukup euy! Recehan cuma tinggal sen-sen doank!  Huaaaa…..!!!  Ke mana nih Dewi Fortuna?  Lagi kencan kali ya?!  Ya sudah, rencana B dijalankan: apalagi kalau bukan JALAN KAKI…hik..hik..

                                                        **

Jadilah hari ini kuliahku berakhir dengan “indah”:  sepeda yang rusak; praktikum yang terlambat (Frans, bapak asisten lab yang baik hati dan tidak sombong cuma bilang: “it`s OK!”).  Iye, OK sih OK, asal jangan nilaiq disunat aje, hehe…

Tambah lengkap keindahan hari ini karena rekan satu grup praktikum berhalangan hadir sehingga diriku praktikum sendirian.  Semakin indah karena begitu tiba di housing, kamar dalam keadaan berantakan karena ternyata menurut info rekan satu housing, listrik setiap kamar habis dipermak.  Keindahan hari ini ditutup oleh melilitnya perutq karena laparrr…..alamaaakkk…  Indah benerrrrr…

Kampus Wageningen punya satu keunikan yang q suka: mahasiswa kampus ini datang dari berbagai negara dan pastinya beragam bahasa.  Menurut hasil pendataan kampus tahun 2008, terutama program yang q ambil (Food Technology), sekitar 60% mahasiswa berasal dari luar Belanda dan mencakup 5 benua! Wow, bisa dibayangkan serunya kalau semua mahasiswa in berkumpul dan berbicara dalam bahasanya masing2 (Indonesia juga dong!), jadilah koor bahasa yang aneh plus unik.

Seperti pengalamanku praktikum dengan rekan2 yang berasal dari (sepanjang yang kuingat) Spanyol, Cina, Lithuania, Nigeria, Thailand, Belanda (otomatis!), India, dan Irak. Masing2 punya keunikan tersendiri ketika berkomunikasi termasuk dalam bahasa Inggris (kalau pakai bahasa ibu, ya..namanya ngedumel sendiri…hehe…). 

Dari Nigeria misalnya, intonasinya seperti rapper namun sayangnya sukar dimengerti (apa kuping ini yang bermasalah ya?).  Yang dari Cina, hayaaahhh…sulit juga untuk dimengerti.  Pernah q tanya si rekan dari Cina ini mengenai pendapatnya tentang hasil praktikum.  Setelah berpikir sejenak, dia menjawab, ” I sink the result is good..”  Oooh my…. (red: yang dimaksud adalah “I think”).  Yang dari India, udah pada tahulah…mirip2 sama Shahrukh Khan (omongannya loh! Bukan wajahnya). Syukurlah yang dari Espanol dan Belanda bisa kumengerti omongannya. Aman…  Terus yang dari Indonesia (termasuk diriku), gimana tuh kalo lagi ngomong?  Ya..so far so good-lah.. At least ngga ada yang nanya, “Sorry?”, “What did you say?” etc kalo kita lagi ngomong…hehehe…tetep..narsis…. ^o^

Sudah hampir dua minggu ini aku mulai part time job AKA kerja sambilan sebagai house cleaner AKA pembokat!hehe….

Yup, di Wageningen (kemungkinan besar di seluruh Belanda), mahasiswa diperbolehkan kerja sambilan maksimal 10 jam (demikian kabarnya) per minggu saat musim perkuliahan.  Kalo musim panas tiba (libur semester), kita boleh kerja tiap hari.  Momen seperti ini dimanfaatkan oleh mahasiswa internasional untuk mendulang euro (terutama yang nilai tukar mata uangnya rendah,hihi…).  Motivasinya macam2.. Ada yang buat bayar sewa kamar, nambah uang saku kuliah, untuk ongkos liburan, cari kesibukan (hayaahhh…), just for fun (ini golongan “tajir”), en untuk kirim ke enyak dan babe di rumah.  Silakan tebak yang mana motivasiku :p

Sekitar 3 minggu lalu aku masang iklan di buletin online milik kampus (gratis dong…).  Beberapa hari kemudian, ada email masuk di inbox yahoo-ku yang menawarkan kerja bersih2 di rumahnya (yang lumayan jauh, sekitar 20 menit bersepeda) selama 2 jam/minggu dengan bayaran 20 euro!Hehehe…baca 20 euro, nih mata langsung ijo!  Secara 20 euro bisa buat makan 2 minggu coy! Kerjanya pas weekend pula.  Daripada bengong, langsung aja tuh email qu balas: YES!

Ternyata si empunya rumah suami istri tanpa anak (ada niat ngga ya mereka buat adopsi anak?). Tapi mereka ngga sepenuhnya hidup berdua karena ada satu ekor anjing jenis shepherd-husky (Daisy namanya) yang manjanya minta ampun plus satu ekor kucing, Deacon, yang sumpah nyebelin banget! Tuh kucing punya kamar tidur lengkap dengan tempat “pup”, piring makan (tanpa sendok dan garpu pastinya), plus aneka jenis makanan kucing (ya eyalaaahhhh…).  Suami istri ini ramah banget (legaaa…) dan dengan senang hati ngasih kebebasan ke aku untuk membersihkan rumah mereka dengan caraku sendiri (yang penting bersih).  Sebelum rumah ku bersihkan, si Daisy (cowok loh…) diajak main keluar rumah.  Karena kalo ngga, nih anjing bakal buntutin aku ke manapun sambil gigit tulang plastik favoritnya.  Pertama kali aku datang, Daisy udah nyambut di depan rumah dengan tuh tulang (ramah kayak si empunya). Deacon?  Tuh kucing kayaknya punya tempat persembunyian di mana2..

Mulailah aku bekerja… Kira2 rincian kerjaannya seperti ini:

– Ngelap meja, kursi, perkakas, dll (udah cairan khusus plus lap khusus)

– Vacuuming (terutama bersihin bulu2 Daisy yang suka iseng bertebaran di mana2).

– Ngepel.

-Udah, gitu doank…Gitu doank tapi selesainya 2 jam kemudian..Lama yak? Sure, soalnya yang harus dipel dan di-vacuum itu 3 lantai! Tapi berhubung rumahnya mungil (syukurlahhh..) jadi lumayanlahh…

Selesai kerja aku langsung dapat bayaran..20 euro! Voila!!!  Langsung deh ngacir ke pasar en swalayan untuk memborong persediaan bahan makanan selama 2 minggu (saat hari kuliah, agak malas untuk belanja).  Rasanya deg2an pas megang uang hasil keringat sendiri (beneran loh keringatan..!). 

Begitulah, aku bersyukur dapat kerjaan ini dalam waktu cepat.  Banyak juga teman2 dari Indo dan juga negara2 lain yang masih mencari kerja namun belum berhasil dapetin tuh kerjaan.  I am lucky?  Maybe yes, maybe no!

Hayaaahhh…udah ah..mo istirahat…pinggang pegel karena sisa2 capek kerja Sabtu kemarin :(

Ternyata berat juga kerjaan si bibik.  Jadi ngerasa bersalah dulu di Indo suka ngomelin bibik yang suka grasak-grusuk kalo nyuci baju.  Maap ya Biikkk…

Rabu pagi yang mendung…seperti biasa q ngikutin kuliah Mr. M.  Kali ini materinya tentang mineral. Di tengah perkuliahan, Mr. M ngasih pertanyaan tentang garam laut (sea salt) en garam meja (table salt).

“Manakah yang lebih baik untuk dikonsumsi? Garam laut atau garam meja?” tanya Mr. M.

“Well, sebenarnya pertanyaan ini ngga fair, karena pada dasarnya tidak ada perbedaan signifikan antara keduanya.” Mr. M juga yang jawab (???)..

“Jadi baik garam meja atau garam laut sama saja efeknya ke tubuh?” kali ini mahasiswa bule nyeletuk.

“Pada dasarnya iya.” jawab Mr. M.

“Apa rasa kedua garam ini sama?”seorang bule cewek tiba-tiba bersuara.  Mr. M tertegun sejenak.

“Of course,…they are salt…pasti rasanya sama.”

Aq nyengir..

Two students are involving in intense discussion with supervisor about their practical experimental design.

Supervisor : So, what`s your plan for this practical? Have you decided your   final experimental design?

Student A : Well, we plan to conduct hydrolysis of soy protein using protease…bla…bla…bla…

Supervisor : Excellent! What enzyme do you need?

Student A : Pepsin. Do you have one?

Supervisor : Sure, we have pepsin. I can find it for you.

Mahasiswa B : Sorry, but we need protease, not pepsin..

Mahasiswa A and supervisor : errrr….

Mencari kerja part time di Belanda emang gampang-gampang susah. Sekali waktu, kerjaan bisa didapat dengan mudah tapi di waktu lain, “euro” ngga juga nongol.  Boro-boro dapat kerjaan, yang ada malah dikira yang bukan-bukan. Saya punya pengalaman memedihkan hati mengenai kerja part time (sengaja dihiperbolis).

Yang menyenangkan di kampus Wageningen University, ada fasilitas buletin online dimana mahasiswa memiliki akses penuh untuk pasang iklan gratis, mulai dari sewa kamar, cari kamar, jual kulkas, jual sepatu (halah…) sampe nyari kerja. Nah, saya ngga mau ketinggalan untuk memakai fasilitas ini. Niatnya adalah memasang iklan untuk mencari kerja part time sebagai “cleaner” (nama bagusnya pembantu, hehehe…). Iklan yang saya pasang singkat dan simpel : “Do you need someone to clean your sweet home during the weekend? 10 euro/hour and you won`t be upset!”  Tak lupa saya cantumkan alamat email dan nomor telpon. Sipp..beres…!!

2 minggu berlalu tapi inbox saya sepi-sepi saja (dengan mengenyampingkan spam tentunya). Sampai suatu ketika saat tengah asik berbelanja kebutuhan makanan di pasar murah..tiba-tiba hape saya berbunyi…Ring tone Pilot Band “Sepanjang Hidupku” bersenandung merdu (hiperbolis lagi). Biarpun lagi di tanah orang, nasionalisme tetap berkobar (???). Hm, di layar tertera nomor Belanda. Agak ragu, saya menekan tombol “jawab”.

Saya : “Hello…”

Si anu : “Hello…is this Eda?””Eh? Siapa nih? Suara om-om, kental aksen Belanda. Mulai negative thinking…

Saya : Yes..who is this?”

Si Om (red:sebutan berubah):  “Do you speak Dutch?”

Saya : “Errr….no…” Saya cuma tau “Goede morgen”yang berarti selamat pagi, tapi ini kan udah siang…

Si Om : ” Well, I saw your advertisement on bulletin that you are looking for cleaning job…” Si om susah payah menjelaskan. Sepertinya yang bersangkutan kurang fasih berbahasa Inggris. Iklan? Cleaning?Waahhhh…baru ngehh.. Seketika saya sumringah.

Saya : “Yes, it`s correct! Do you need my help to clean your house, Sir?”

Si Om : “No, but I can help you.” Hee…apa pula ini? Ngga butuh pembokat tapi menawarkan bantuan? Masa iya di Wageningen yang kecil ini ada jasa TKI?

Saya: “I am sorry but I don`t get your point.””

Si Om : ” I mean…I don`t need my home to be cleaned..but you can come to..my home..we can talk..”

Saya :”” Now, I really don`t understand.”

Si Om: I am sorry, I can`t speak English..well… but we can meet each other..I..I.. can help you and you can help me…”

Apa-apaan nih?? Help-help-an…???

Saya : “Make your point, please?”

Si Om : ” We can go to other countries..I can help you if you need something..you can help me.. we can be together…you…”

Saya : “I have a boyfriend!” Panas kuping saya..Ternyata si Om nyari “temen maen”.

Si Om : “Oh, sorry…sorry..sorry..you have a boyfriend? Sorry… Well, if I need you to clean my home, I will call you..sorry..” tuuuuuuuuuuuuttttttttttttt…. Telponnya diputus.  Tinggal saya yang bengong…. Iklan yang saya pasang di buletin berbuah pare (red :pahit). Bukannya dapat pekerjaan, malah diajak kencan. Biyung…biyungg…

“Excuse me, will you pay the fish?” Heeeeeeeeee……..lupa!! Karena telpon aneh tadi saya lupa membayar kol yang sudah nongkrong dengan manis dalam kantong belanjaan saya. What a day…

Yup! Nih resep orisinil dari frenfish, dedicated to boardinghourse girls. Namanya sih aneh, tapi taste-nya dijamin ueenaakkk, hehehehe… Nih resep simpel banget! Maklum buatnya pas lagi luaperrr plus duit terbatas. Maklum lagi, anak kos geto. Key, bagi vegetarian, boleh juga kok nyoba resep ini.. 🙂

Bahan :

Jagung manis 4 buah, dilepas dari bongkolnya (terserah mo diiris ato dicomot atu-atu, hihi…) dan direndam air panas sekitar 5 menit lalu tiriskan.

Buncis 10 buah, potong dadu

Wortel 1 buah, potong dadu lagi (boleh nambah kok! pan wortel bagus buat cegah stroke)

Kentang 2 buah, lagi-lagi potong dadu

Brokoli 1 buah, cincang kasar

Kembang kol 1 buah, cincang kasar

Bumbu :

4 siung bawang putih, cacah kasar

3 siung bawang merah, cacah kasar (aduuhhh…kok kasar2 melulu yak?)

Cabe (suka-suka), potong2

Penyedap rasa secukupnya

Minyak goreng buat tumis

Cara membuat :

Pertama-tama, panaskan minyak trus tumis bawang putih sampai harum (endus-endus….). Setelah itu, masukkan bawang merah dan cabai, menyusul semua bahan sayuran, aduk rata, tambahkan penyedap sambil dicicipi (jangan kebanyakan penyedap, bahan kimianya akeehhh!). Aduk terus hingga sayur matang, angkat en siap dihidangkan! Oh ya, makannya paling afdol dengan telur rebus en tidak pakai nasi… Nyam…nyam… Jadi laperrr…Masak dulu ahhhh… Eh, tapi dah tengah malam yak? Yaaaaa…..

ps : Bagi yang healthy food mania, penyedapnya bisa kok diganti garam seckupnya 🙂


Nea merengut kesal.

“Kenapa bukan papa dan mama saja yang pergi? Kenapa harus kita?” tanyanya dengan gusar pada Aura, adiknya. Aura tersenyum manis.

“Aduh Kak Nea sayang, besok papa dan mama tuh ada acara yang pentiiiing…banget yang ngga bisa ditinggal. Jadi kita berdua disuruh mewakili papa dan mama! Lagian, besok kita berdua libur kan?” jelasnya dengan lembut. Memang hanya itu cara menghadapi kakaknya yang manis tapi galak ini. Aura sering menjadi tempat curhat teman-teman cowok Kak Nea yang mengeluhkan sikap kakaknya yang dingin bahkan ketus pada mereka. Kak Nea memang tidak pernah terlihat dekat apalagi berpacaran dengan cowok. Kata Kak Nea, cowok itu makhluk yang paling kekanak-kanakan sedunia, melebihi sifat kekanakan seorang bocah. Aura ngga tahu dari sisi mana Kak Nea menilai. Yang jelas, Aura kesal. Kak Nea itu bego atau apa sih? Ngga sadar kalau dia tuh bukan hanya cerdas tapi juga cantik? Ngga tahu apa kalau banyak cowok yang naksir dia? Ngga ngerti apa kalau dia membutuhkan seseorang untuk menyayangi dan menjaganya?

“Iya, tapi kamu tahu kan kakak paling ngga suka pesta!” ucap Nea sewot.

“Aura ngerti, Kak! Tapi ini pesta pernikahan Ani, kakak sepupu kita. Masa sih kita sekeluarga ngga ada yang datang? Apa kata mereka nanti? Apa kata duniaaa…” balas Aura sewot ngga kalah sewot.

“Komersil banget!” sindir Nea. Aura cengar-cengir.

“Hehehe…tapi kita jadi datang kan, Kak?” tanya Aura sambil menggerak-gerakkan alis bulan sabitnya. Kening Nea berkerut.

“Terserah kamu aja!” ucapnya pada akhirnya.

Yes! Makasih, Kak! Nanti biar Aura yang dandanin kakak. Kakak mau gaya apa, glamour, anggun, seksi atau…”

“Kamu semangat banget sih? Jadi curiga deh! Ada apa nih?” sergah Nea dengan pandangan menyelidik.

“Ada deh…” jawab Aura sambil tersenyum penuh arti. Sabar ya Kak Nea yang manis, aku akan menunjukkan sesuatu yang istimewa untuk kakak.

*

Mulut Aura menganga. Ia memandang sosok di depannya dengan penuh rasa takjub.

“Gimana, Ra? Pantas ngga?” tanya Nea padanya. Aura berdecak.

“Pantas, pantas banget! Kakak cantik dan anggun sekali. Sumpah disambar geledek!” katanya penuh semangat. Nea tersenyum manis.

“Benar nih ngga takut disambar geledek? Di luar mendung lho!”

“Mendung tak berarti geledek…Tapi benar kok! Kakak cantik banget malam ini. You are wonderful tonight, deh!”

“Eric Clapton kali!” balas Nea sambil tertawa.

“Jadi kamu suka, Ra?” lanjutnya. Aura mengangguk kencang.

“Suka banget!”

“Syukurlah, berarti kakak bisa dimaafkan…” Aura mengernyit tak mengerti. Ada yang ngga beres nih!

“Dimaafkan? Soal apa, Kak?” tanyanya curiga. Nea mesem-mesem. Ia menggerakkan kepala, menunjuk ke kamar Aura. Seketika itu pula Aura ngacir ke kamarnya. Hening. Tapi sejenak kemudian, terdengar teriakan Aura.

“Kakaaakk!! Meja riasku kok jadi berantakan begini sih! Alat make up pada ke mana nih! Lipstik patah, eyes shadow hilang…”

Nea bersiul keras, berpura-pura tak mendengar.

*

Nea berdiri di sudut ruangan dengan perasaan kesal. Kepalanya celingak-celinguk, mencari sosok adiknya yang menghilang di antara para undangan. Aura jahat! Tega banget ninggalin aku sendirian di sini. Awas kalau pulang nanti.

“Baiklah para undangan yang kami hormati, inilah saat yang paling ditunggu-tunggu terutama oleh para gadis…apalagi kalau bukan acara melempar bunga pengantinnn…” terdengar suara MC yang disusul oleh gemuruh tepukan tangan. Nea mendengus kesal. Ditunggu para gadis? Yang benar saja! Justru inilah bagian yang paling dibencinya dari sebuah pesta pernikahan. Para gadis berkumpul, bunga dilempar oleh mempelai wanita sambil membelakangi mereka, kemudian terdengar teriakan kegirangan dan juga rengut kekecewaan. Konyol!

Nea melemparkan pandangannya. Ruangan yang tadi penuh sesak kini tampak sedikit lapang. Itu karena sebagian besar undangan bergerombol di dekat pengantin. Mereka menanti mempelai wanita melempar bunga. Kesempatan itu digunakan Nea untuk mencari Aura. Ia sudah tidak betah.

Nea sedang melintasi ruangan ketika dirasanya sebuah benda melayang ke arahnya. Refleks, Nea menangkap benda yang melayang itu. Ia terperangah. Astaga, the wedding flower! Nea kebingungan. Semua orang menatapnya dan bertepuk tangan. Ia bisa merasakan pandangan iri para wanita yang ditujukan padanya.

“Duh, yang dapat bunga! Senang nih…” Nea berbalik.

“Aura! Kamu dari mana saja? Ninggalin kakak sendirian…” semprotnya. Aura tersenyum lebar.

“Jangan marah dong, Kak! Kan dapat bunga. Asyik nih! Aura jadi iri deh.” katanya menggoda. Nea mendelik. Ia salah tingkah.

“Asyik apanya? Bunganya mau diapakan? Buat kamu aja deh!” ucapnya gusar. Disodorkannya buket bunga itu pada Aura dan berbalik pergi. Tapi, bugg! Nea menabrak seseorang. Ia mengangkat muka, hendak meminta maaf.

“Kenapa diberikan pada Aura? Bunga itu kan milik kamu, Nea!”

“Rein…” Nea tak melanjutkan kata-katanya. Di hadapannya berdiri seorang pemuda tampan dengan senyuman yang tak mungkin dilupakan Nea. Rein! Sebesar apa pun perubahannya, Nea tetap mengenalinya.

“Ya, ini aku Rein. Pacar kamu waktu SMP dan juga… pacar kamu yang sekarang.”

“Maksud kamu?”

“Di antara kita tidak pernah ada kata putus kan? Jadi kita masih pacaran!” kata Rein tegas. Yah, Rein adalah cinta pertamanya. Saat SMP kelas satu, Nea berpacaran dengannya. Namun kemudian mereka berpisah, tidak…! Tepatnya ngambek-ngambekan hanya karena Rein marah coklat Valentine buatan Nea untuknya terlalu lembek dan kemanisan. Mulut Rein belepotan coklat saat ia marah-marah pada Nea. Anehnya, dia tetap memakannya sampai habis.

“Cieee..sudah dapat bunga, ketemu yayang lagi. Kok ngga bilang-bilang sih kalau kakak sudah punya pacar? Pantas Aura comblangin gagal teruss… Setia nih yee…” ledek Aura sambil tersenyum manis pada Rein.

“Kak, kata orang nih, kalau cewek dapat bunga pengantin, artinya dia bakal menjadi the next bride, lho! Tadinya pas bunga itu jatuh ke tangan kakak, Aura sedikit pesimis soal itu. Tapi kalau sekarang sih…”

“Udah, jangan godain kakak melulu. Mending kita pulang sekarang.”

“Yahh…kok cepat-cepat sih! Jangan sekarang dong, Kak! Aura kan masih pengen cuci mata. Kalau kakak kan sudah ada yang nemenin. Kak Rein, tolong jaga kakak. Aura mau pergi dulu!”

“Eh, kamu mau ke mana? Auraa…” teriakan Nea dibalas dengan kedipan oleh Aura. Sebentar kemudian, ia sudah tak terlihat.

Nea malu, salah tingkah plus bingung. Setelah sekian lama tidak bertemu, ia tidak menyangka wajahnya terasa masih bersemu merah saat ditatap Rein. Rasa suka saat SMP dulu ternyata masih ada, bahkan lebih kuat.

“Bunga itu terlihat semakin cantik kalau kamu yang menggenggamnya. Dan seperti bunga itu, kamu juga makin cantik.” ucap Rein lembut. Nea tersipu.

“Makasih, Rein.”

“Nea…”

“Ya?”

“Kamu masih mau kan membuat coklat Valentine untukku? Lembek juga tidak apa-apa…” ucap Rein penuh harap. Nea menatapnya.

“Iya, aku mau…tapi ngga bakal lembek lagi kok.” balasnya pelan. Rein tertawa. Nea tersenyum. Ada rasa bahagia yang pelahan merembes di hatinya. Kini tangannya menggenggam buket bunga pengantin dengan kuat, seakan takut bunga itu terlepas dari genggamannya. Seperti inikah rasanya menggenggam bunga impian para gadis? Dalam hati, Nea menertawakan dirinya, menertawakan kekonyolan yang ternyata justru ada dalam dirinya.

Tak jauh dari mereka, Aura berdiri, memandang dengan penuh senyuman. Dalam hati ia berkata. Kakakku yang manis, maaf ya. Aku yang merencanakan semuanya. Bunga pengantin itu, aku yang meminta Kak Ani untuk memberikannya pada kakak. Pertemuanmu dengan Rein juga aku yang merencanakan. Habisnya, cuma kakak yang pantas mendapatkan bunga itu. Habisnya, Rein tuh sayang banget sama kakak, setia sama kakak. Kakak juga kan? Maaf ya, Kak! Tapi kakak tahu tidak, ternyata tadi Kak Ani asal saja melempar bunga itu. Dia tidak bisa mengarahkannya pada kakak karena kakak berdiri terlalu jauh. Nyatanya bunga itu tetap jatuh ke tangan kakak karena sejak semula …bunga itu memang untuk kakak. Kakak percaya kan?

Design a site like this with WordPress.com
Get started