
Nea merengut kesal.
“Kenapa bukan papa dan mama saja yang pergi? Kenapa harus kita?” tanyanya dengan gusar pada Aura, adiknya. Aura tersenyum manis.
“Aduh Kak Nea sayang, besok papa dan mama tuh ada acara yang pentiiiing…banget yang ngga bisa ditinggal. Jadi kita berdua disuruh mewakili papa dan mama! Lagian, besok kita berdua libur kan?” jelasnya dengan lembut. Memang hanya itu cara menghadapi kakaknya yang manis tapi galak ini. Aura sering menjadi tempat curhat teman-teman cowok Kak Nea yang mengeluhkan sikap kakaknya yang dingin bahkan ketus pada mereka. Kak Nea memang tidak pernah terlihat dekat apalagi berpacaran dengan cowok. Kata Kak Nea, cowok itu makhluk yang paling kekanak-kanakan sedunia, melebihi sifat kekanakan seorang bocah. Aura ngga tahu dari sisi mana Kak Nea menilai. Yang jelas, Aura kesal. Kak Nea itu bego atau apa sih? Ngga sadar kalau dia tuh bukan hanya cerdas tapi juga cantik? Ngga tahu apa kalau banyak cowok yang naksir dia? Ngga ngerti apa kalau dia membutuhkan seseorang untuk menyayangi dan menjaganya?
“Iya, tapi kamu tahu kan kakak paling ngga suka pesta!” ucap Nea sewot.
“Aura ngerti, Kak! Tapi ini pesta pernikahan Ani, kakak sepupu kita. Masa sih kita sekeluarga ngga ada yang datang? Apa kata mereka nanti? Apa kata duniaaa…” balas Aura sewot ngga kalah sewot.
“Komersil banget!” sindir Nea. Aura cengar-cengir.
“Hehehe…tapi kita jadi datang kan, Kak?” tanya Aura sambil menggerak-gerakkan alis bulan sabitnya. Kening Nea berkerut.
“Terserah kamu aja!” ucapnya pada akhirnya.
“Yes! Makasih, Kak! Nanti biar Aura yang dandanin kakak. Kakak mau gaya apa, glamour, anggun, seksi atau…”
“Kamu semangat banget sih? Jadi curiga deh! Ada apa nih?” sergah Nea dengan pandangan menyelidik.
“Ada deh…” jawab Aura sambil tersenyum penuh arti. Sabar ya Kak Nea yang manis, aku akan menunjukkan sesuatu yang istimewa untuk kakak.
*
Mulut Aura menganga. Ia memandang sosok di depannya dengan penuh rasa takjub.
“Gimana, Ra? Pantas ngga?” tanya Nea padanya. Aura berdecak.
“Pantas, pantas banget! Kakak cantik dan anggun sekali. Sumpah disambar geledek!” katanya penuh semangat. Nea tersenyum manis.
“Benar nih ngga takut disambar geledek? Di luar mendung lho!”
“Mendung tak berarti geledek…Tapi benar kok! Kakak cantik banget malam ini. You are wonderful tonight, deh!”
“Eric Clapton kali!” balas Nea sambil tertawa.
“Jadi kamu suka, Ra?” lanjutnya. Aura mengangguk kencang.
“Suka banget!”
“Syukurlah, berarti kakak bisa dimaafkan…” Aura mengernyit tak mengerti. Ada yang ngga beres nih!
“Dimaafkan? Soal apa, Kak?” tanyanya curiga. Nea mesem-mesem. Ia menggerakkan kepala, menunjuk ke kamar Aura. Seketika itu pula Aura ngacir ke kamarnya. Hening. Tapi sejenak kemudian, terdengar teriakan Aura.
“Kakaaakk!! Meja riasku kok jadi berantakan begini sih! Alat make up pada ke mana nih! Lipstik patah, eyes shadow hilang…”
Nea bersiul keras, berpura-pura tak mendengar.
*
Nea berdiri di sudut ruangan dengan perasaan kesal. Kepalanya celingak-celinguk, mencari sosok adiknya yang menghilang di antara para undangan. Aura jahat! Tega banget ninggalin aku sendirian di sini. Awas kalau pulang nanti.
“Baiklah para undangan yang kami hormati, inilah saat yang paling ditunggu-tunggu terutama oleh para gadis…apalagi kalau bukan acara melempar bunga pengantinnn…” terdengar suara MC yang disusul oleh gemuruh tepukan tangan. Nea mendengus kesal. Ditunggu para gadis? Yang benar saja! Justru inilah bagian yang paling dibencinya dari sebuah pesta pernikahan. Para gadis berkumpul, bunga dilempar oleh mempelai wanita sambil membelakangi mereka, kemudian terdengar teriakan kegirangan dan juga rengut kekecewaan. Konyol!
Nea melemparkan pandangannya. Ruangan yang tadi penuh sesak kini tampak sedikit lapang. Itu karena sebagian besar undangan bergerombol di dekat pengantin. Mereka menanti mempelai wanita melempar bunga. Kesempatan itu digunakan Nea untuk mencari Aura. Ia sudah tidak betah.
Nea sedang melintasi ruangan ketika dirasanya sebuah benda melayang ke arahnya. Refleks, Nea menangkap benda yang melayang itu. Ia terperangah. Astaga, the wedding flower! Nea kebingungan. Semua orang menatapnya dan bertepuk tangan. Ia bisa merasakan pandangan iri para wanita yang ditujukan padanya.
“Duh, yang dapat bunga! Senang nih…” Nea berbalik.
“Aura! Kamu dari mana saja? Ninggalin kakak sendirian…” semprotnya. Aura tersenyum lebar.
“Jangan marah dong, Kak! Kan dapat bunga. Asyik nih! Aura jadi iri deh.” katanya menggoda. Nea mendelik. Ia salah tingkah.
“Asyik apanya? Bunganya mau diapakan? Buat kamu aja deh!” ucapnya gusar. Disodorkannya buket bunga itu pada Aura dan berbalik pergi. Tapi, bugg! Nea menabrak seseorang. Ia mengangkat muka, hendak meminta maaf.
“Kenapa diberikan pada Aura? Bunga itu kan milik kamu, Nea!”
“Rein…” Nea tak melanjutkan kata-katanya. Di hadapannya berdiri seorang pemuda tampan dengan senyuman yang tak mungkin dilupakan Nea. Rein! Sebesar apa pun perubahannya, Nea tetap mengenalinya.
“Ya, ini aku Rein. Pacar kamu waktu SMP dan juga… pacar kamu yang sekarang.”
“Maksud kamu?”
“Di antara kita tidak pernah ada kata putus kan? Jadi kita masih pacaran!” kata Rein tegas. Yah, Rein adalah cinta pertamanya. Saat SMP kelas satu, Nea berpacaran dengannya. Namun kemudian mereka berpisah, tidak…! Tepatnya ngambek-ngambekan hanya karena Rein marah coklat Valentine buatan Nea untuknya terlalu lembek dan kemanisan. Mulut Rein belepotan coklat saat ia marah-marah pada Nea. Anehnya, dia tetap memakannya sampai habis.
“Cieee..sudah dapat bunga, ketemu yayang lagi. Kok ngga bilang-bilang sih kalau kakak sudah punya pacar? Pantas Aura comblangin gagal teruss… Setia nih yee…” ledek Aura sambil tersenyum manis pada Rein.
“Kak, kata orang nih, kalau cewek dapat bunga pengantin, artinya dia bakal menjadi the next bride, lho! Tadinya pas bunga itu jatuh ke tangan kakak, Aura sedikit pesimis soal itu. Tapi kalau sekarang sih…”
“Udah, jangan godain kakak melulu. Mending kita pulang sekarang.”
“Yahh…kok cepat-cepat sih! Jangan sekarang dong, Kak! Aura kan masih pengen cuci mata. Kalau kakak kan sudah ada yang nemenin. Kak Rein, tolong jaga kakak. Aura mau pergi dulu!”
“Eh, kamu mau ke mana? Auraa…” teriakan Nea dibalas dengan kedipan oleh Aura. Sebentar kemudian, ia sudah tak terlihat.
Nea malu, salah tingkah plus bingung. Setelah sekian lama tidak bertemu, ia tidak menyangka wajahnya terasa masih bersemu merah saat ditatap Rein. Rasa suka saat SMP dulu ternyata masih ada, bahkan lebih kuat.
“Bunga itu terlihat semakin cantik kalau kamu yang menggenggamnya. Dan seperti bunga itu, kamu juga makin cantik.” ucap Rein lembut. Nea tersipu.
“Makasih, Rein.”
“Nea…”
“Ya?”
“Kamu masih mau kan membuat coklat Valentine untukku? Lembek juga tidak apa-apa…” ucap Rein penuh harap. Nea menatapnya.
“Iya, aku mau…tapi ngga bakal lembek lagi kok.” balasnya pelan. Rein tertawa. Nea tersenyum. Ada rasa bahagia yang pelahan merembes di hatinya. Kini tangannya menggenggam buket bunga pengantin dengan kuat, seakan takut bunga itu terlepas dari genggamannya. Seperti inikah rasanya menggenggam bunga impian para gadis? Dalam hati, Nea menertawakan dirinya, menertawakan kekonyolan yang ternyata justru ada dalam dirinya.
Tak jauh dari mereka, Aura berdiri, memandang dengan penuh senyuman. Dalam hati ia berkata. Kakakku yang manis, maaf ya. Aku yang merencanakan semuanya. Bunga pengantin itu, aku yang meminta Kak Ani untuk memberikannya pada kakak. Pertemuanmu dengan Rein juga aku yang merencanakan. Habisnya, cuma kakak yang pantas mendapatkan bunga itu. Habisnya, Rein tuh sayang banget sama kakak, setia sama kakak. Kakak juga kan? Maaf ya, Kak! Tapi kakak tahu tidak, ternyata tadi Kak Ani asal saja melempar bunga itu. Dia tidak bisa mengarahkannya pada kakak karena kakak berdiri terlalu jauh. Nyatanya bunga itu tetap jatuh ke tangan kakak karena sejak semula …bunga itu memang untuk kakak. Kakak percaya kan?